You are hereSepeda buat apa sih?

Sepeda buat apa sih?


By adminweb - Posted on 24 November 2009

brindz1.jpg
Sepeda sebagai moda transportasi, sebagai hobi, atau sebagai barang mewah? Pertanyaan itu dapat dijawab secara objektif maupun subjektif.
Dengan dicanangkannya program ‘Sego Segawe’ (Sepeda kanggo sekolah & nyambut gawe) oleh Pemkot Yogyakarta, menunjukkan adanya dukungan agar sepeda menjadi alat transportasi. Selain adanya program itu, di jalan-jalan Kota Yogyakarta juga dapat dijumpai papan penunjuk yang menunjukkan jalur alternatif bagi sepeda. Pun dapat dijumpai jalur sepeda di bagian paling tepi dari jalan, seperti di jalan Cik Di Tiro atau di Samirono.
Tak sedikit pula orang yang benar-benar concern dan intens dengan sepeda. Maksudnya, banyak juga orang yang peduli dengan keberadaan sepeda. Hal ini terlihat dengan banyaknya komunitas sepeda yang ada.
Banyak komunitas sepeda yang ada di Kota Yogyakarta. Misalnya komunitas low-rider, komunitas pecinta down hill atau yang paling sederhana adalah komunitas sepeda onthel. Dengan adanya komunitas ini, dapat tersalurkan pula hasrat orang yang memang suka terhadap sepeda ini. Dapat diartikan bahwa sepeda sebagai hobi. Apabila benar-benar dituruti dan dilanjutkan, hal yang mulanya sederhana bisa menjadi rumit dan kompleks. Kadang seseorang tidak puas dengan onderdil bawaan awal dari sepeda yang dimilikinya. Maka kemudian dia mengganti dengan onderdil yang berkualitas lebih baik. Lama kelamaan, jika dikonversikan dan ditabulasikan, harga sepedanya akan menjadi semakin mahal. Saat itulah sepeda menjadi barang yang mewah.brindz2.jpg

vs. Masyarakat pada Umumnya

Mungkin tidak terasa bahwa kebiasaan bersepeda telah lama tergerus dan menjadi berkurang. Saat ini, kendaraan di jalanan lebih didominasi oleh kendaraan bermotor, entah itu sepeda motor, mobil atau kendaraan bermotor lain. Sepeda seakan tersisihkan. Meskipun pengguna sepeda telah diberi fasilitas tersendiri, semisal jalur khusus sepeda atau jalur alternatif bagi sepeda, sepertinya saat ini hal itu tidak berguna.
Mulai dari pagi menjelang siang, di selatan kampus UNY, di sisi utara jalan, jalur khusus sepeda malah dipergunakan oleh pedagang kaki lima yang menjual kacamata, jenang dan es buah. Pun demikian di jalan Herman Yohannes, jalur khusus sepeda malah digunakan untuk parkir mobil. Hak bagi pengguna sepeda pun seakan terampas.
Jadi tidak salah bila ada aturan tak tertulis bagi para pengguna sepeda :
Lampu hijau, artinya, jalan terus
Lampu kuning, artinya, hati-hati
Lampu merah, artinya, tetap jalan terus..
yang hal tersebut biasa terjadi di perempatan atau pertigaan yang ada traffic light.
Mungkin hal itu akan membuat jengkel pengguna kendaraan bermotor yang sedang berhenti di perempatan. Mungkin mereka akan berpikiran :”Mbok ya patuh tata tertib lalu lintas!!”.
Sebenarnya hal itu tak perlu diperdebatkan. Kembali kepada diri masing-masing. Jika kita bisa berlaku baik pada orang lain, maka orang lain akan berbuat baik pula kepada kita. Silakan dipikirkan dan direnungkan!!
Dapat pula dikatakan bahwa aturan berlalu lintas bagi pengguna sepeda tidak ada di undang-undang. Maka tidak salah jika pengguna sepeda dapat berbuat seenaknya. Ahh, ada-ada saja orang yang berpikiran seperti ini.
Sebenarnya banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari bersepeda. Pertama, berolahraga. Dengan berolahraga, maka badan akan menjadi sehat. Kedua, sepeda tidak memerlukan bahan bakar, jadi bisa lebih berhemat. Untuk menggerakkannya, hanya bermodalkan dengkul. Ketiga, ramah lingkungan. Sepeda tidak menimbulkan polusi. Hal ini juga turut mengurangi pemansan global yang saat ini menjadi isu dunia. Keempat, kelima, keenam, dan seterusnya, silakan dijawab setelah Anda merasakan nikmatnya bersepeda.
Lalu, untuk apa sepeda itu? Jawabnya ada di hati masing-masing tiap orang.

Tags

Who's online

There are currently 0 users and 2 guests online.